Asal usul Penggunaan Kata Unicorn pada Bisnis Startup

Pada Minggu (17/2019) kemarin, istilah “unicorn” sempat ramai diperbincangkan warganet pasca debat calon presiden 2019 putaran kedua berlangsung. Unicorn menjadi buah bibir karena saat debat berlangsung, calon presiden nomor urut 02 terlihat tidak terlalu paham istilah unicorn.

Istilah unicorn biasanya disematkan pada perusahaan startup yang memiliki valuasi lebih dari satu miliar dollar AS atau jika dikonversi ke rupiah bisa mencapai Rp 14,1 triliun. Istilah ini muncul pertama kali pada 2013 yang ditulis oleh Aileen Lee, seorang pemodal ventura dari Cowboy Ventures.

Istilah tersebut terdapat pada sebuah artikel yang diterbitkan Tech Crunch dengan judul “Welcome to the Unicorn Club : Learning From Billion-Dollar Startups.” Sejak saat itu unicorn menjadi kosa kata baru di bidang investor yang bekerja di industri teknologi.  Istilah unicorn bisa menggambarkan obsesi magis pada startup yang berburu valuasi hingga miliaran dollar AS.

“Ya, kami tahu istilah ‘unicorn’ tidaklah tepat, unicorn mungkin tidak nyata dan perusahaan itu nyata, tapi kami menyukai istilah itu karena bagi kami hal itu sangat jarang dan bersifat magis,” papar Lee dikutip dari Tech World.

Istilah unicorn juga kini berkembang menjadi decacorn (perusahaan yang rintisan yang punya valuasi di atas 10 miliar dollar AS). Ada pula hectocorn (menyebut startup dengan valuasi di atas 150 milliar AS). Menurut data Google-Temasek tahun 2018, dalam skala regional Asia Tenggara memiliki sembilan startup unicorn, empat diantaranya berasal dari Indonesia (Go-jek, Tokopedia, Traveloka, dan Bukalapak).

Sumber :

https://tekno.kompas.com/read/2019/02/18/19190017/asal-usul-kata-unicorn-di-industri-startup-mengapa-bisa-dipakai-.